Gigitan Ular dan Serangga


GIGITAN PADA ULAR DAN SERANGGA

 

 

 

A. DEFINISI

Semua orang tahu kecoa.  Setiap kali melihatnya orang cenderung bereaksi dengan perasaan jijik.  Bahkan tidak segan untuk membunuhnya.  Kecoa memang banyak terdapat di sekitar kita.  Pada umumnya kecoa tinggal di rumah-rumah atau tempat-tempat tersembunyi, memakan hampir segala macam makanan.  Baunya yang tidak sedap ditambah kotoran dan kuman yang ditinggalkan di setiap tempat yang ia hinggapi, membuat manusia menyebutnya sebagai binatang yang menjijikkan.  Tak heran, keberadaan kecoa di anggap sebagai indikator sanitasi yang buruk.  Kecoa kebanyakan hidup di daerah tropis yang kemudian menyebar ke daerah sub tropis, bahkan sampai ke daerah dingin.  Serangga yang hidupnya mengalami metamorfosis tidak sempurna ini memang sangat menyukai tempat-tempat yang kotor dan bau.  Bergelut dengan kotoran dan bau tidak menjadikan kecoa rentan terhadap penyakit.  Sebaliknya, serangga ini justru termasuk serangga yang mampu bertahan hidup dalam kondisi ekstrem.   Kemampuan beradaptasinya tidak perlu diragukan lagi.

Rayap merupakan serangga berukuran kecil yang hidup berkelompok dengan sistem kasta yang berkembang sempurna.  Serangga ini masuk dalam ordo isoptera (dari bahasa Yunani, iso = sama dan ptera = sayap).  Dijelaskan, di dalam biosfera, pada dasarnya rayap merupakan bagian dari komponen lingkungan biotik yang memainkan peranan penting, seperti dapat membantu manusia menjaga keseimbangan alam dengan cara menghancurkan kayu untuk mengembalikannya sebagai unsur hara dalam tanah.  Namun karena perubahan kondisi habitat akibat aktivitas manusia, sangat potensial mengubah status rayap menjadi serangga hama yang merugikan.

Gigitan ular ini adalah sakit dan akan menjadi bengkak.  Sebagaimana keluarga Elapidae, keparahan mangsa gigitan ular ini juga bergantung kepada jumlah racun yang disuntikkan ke tubuhnya dan juga jenis ular yang menggigit.  Secara garis besar ular berbisa dapat di kelompokkan kedalam 3 kelompok :

1.      Colubridae (mangroce cat snake, boiga dendrophilia, dll)

2.      Elapidae (king cobra, blue coral snake, Sumatra spitting cobra, dll)

3.      viperidae (borneo green pit viper, Sumatran pit viper, dll)

Pengelompokkan ini berguna bagi tenaga kesehatan untuk penanganan selanjutnya dalam pemberian anti venom sesuai dengan pengelompokkan tersebut.

 

B. PATOFISIOLOGI

  1. Patofisiologi Gigitan Pada Serangga

Sebuah gigitan atau sengatan dapat menyuntikkan bisa (racun) yang disebut Pteromone. Pteromone ini tersusun dari protein dan substansi lain atau bahan kimia yang mungkin memicu reaksi alergi kepada penderita. Gigitan serangga juga mengakibatkan kemerahan, bengkak, dan rasa gatal di lokasi yang tersengat yang akan hilang dalam beberapa jam. Gigitan atau sengatan dari lebah, tawon, penyengat, si jaket kuning, dan semut api dapat menyebabkan reaksi yang cukup serius pada orang yang alergi terhadap mereka. Kematian yang diakibatkan oleh serangga 3-4 kali lebih sering dari pada kematian yang diakibatkan oleh gigitan ular. Lebah, tawon dan semut api berbeda-beda dalam menyengat.

Apabila gigitan terjadi pada area mulut atau kerongkongan, pteromone yang dikeluarkan oleh serangga akan menyebabkan menyempitnya saluran pernafasan sehingga dapat mengakibatkan susah bernapas yang akan berlanjut pada syok anafilaksis, dan bisa berakhir pada kematian.

  1. Patofisiologi Gigitan pada Ular

Mangsa gigitan ular jenis Elapidae, biasanya akan mengalami pendarahan kesan daripada luka yang berlaku pada saluran darah dan pencairan darah merah yang mana darah sukar untuk membeku.  Pendarahan akan merebak sertamerta dan biasanya akan berterusan selama beberapa hari.  Pendarahan pada gusi, muntah darah, ludah atau batuk berdarah dan air kencing berdarah adalah kesan nyata bagi keracunan bisa ular jenis Elapidae.  Walaupun tragedi kematian adalah jarang, kehilangan darah yang banyak akan mengancam nyawa mangsa.  Ular ini dapat menyebabkan terjadinya flaccid paralysis.  Ini biasanya berbahaya bila terjadi paralysis pada pernafasan.  Biasanya tanda – tanda yang pertama kali di jumpai adalah pada saraf cranial seperti ptosis, opthalmophlegia, progresif.  Bila tidak mendapat anti venom akan terjadi kelemahan anggota tubuh dan paralisis pernafasan.  Biasaya full paralysis akan memakan waktu lebih kurang 12 jam, pada beberapa kasus biasanya menjadi lebih cepat, 3 jam setelah gigitan.  Beberapa Spesies ular dapat menyebabkan terjadinya koagulopathy.  Tanda – tanda klinis yang dapat ditemui adalah keluarnya darah terus menerus dari tempat gigitan, venipunctur dari gusi, dan bila berkembang akan menimbulkan hematuria, haematomisis, melena dan batuk darah.

 

C. MANIFESTASI KLINIS

1. Gigitan Pada Serangga

Gejala dari gigitan serangga bermacam-macam dan tergantung dari berbagai macam faktor yang mempengaruhi. Kebanyakan gigitan serangga menyebabakan kemerahan, bengkak, nyeri, dan gatal-gatal di sekitar area yang terkena gigitan atau sengatan serangga tersebut. Kulit yang terkena gigitan bisa rusak dan terinfeksi jika daerah yang terkena gigitan tersebut terluka. Jika luka tersebut tidak dirawat, maka akan mengakibatkan peradangan akut.

 

Rasa gatal dengan bintik-bintik merah dan bengkak, desahan, sesak napas, pingsan dan hampir meninggal dalam 30 menit adalah gejala dari reaksi yang disebut anafilaksis. Ini juga diakibatkan karena alergi pada gigitan serangga.

2. Gigitan Pada Ular

Efek yang ditimbulkan akibat gigitan ular dapat dibagi 3 :

a.       Local efek

Beberapa spesies seperti coral snakes, krait akan memberikan efek yang agak sulit di deteksi dan hanya bersifat minor tetapi beberapa spesies, gigitanya dapat menghasilkan efek yang cukup besar seperti : bengkak, melepuh, perdarahan, memar sampai dengan nekrosis yang mesti diwaspadai adalah terjadinya shock hipovolemik sekunder yang diakibatkan oleh berpindah cairan vaskuler ke jaringan akibat pengaruh bisa ular tersebut.

b.      General efek

Gigitan ular ini akan menghasilkan efek sistemik yang non-spesifik seperti, nyeri kepala, mual dan muntah, nyeri perut, diare sampai pasien menjadi kolaps.  Gejala yang ditemui seperti ini sebagai tanda bahaya bagi tenaga kesehatan unuk memberi petolongan segera.

c.       Spesifik systemic efek

Dalam hal ini spesifik systemic efek dapat dibagi berdasarkan :

–          Koagulopathy

Beberapa spesies ular dapat menyebabkan terjadinya koagulopathy.  Tanda – tanda klinis yang dapat ditemui adalah keluarnya darah terus menerus dari tempat gigitan, venipuncture dari gusi, dan bila berkembang akan menimbulkan hematuria, haematomisis, melena dan batuk darah.

–          Neurotoxic

Gigitan ular ini dapat menyebabkan terjadinya flaccid paralysis.  Ini biasanya berbahaya bila terjadi paralysis pada pernafasan.  Biasanya tanda – tanda yang pertama kali di jumpai adalah pada saraf cranial seperti ptosis, opthalmophlegia, progresif.  Bila tidak mendapat anti venom akan terjadi kelemahan anggota tubuh dan paralisis pernafasan.  Biasaya full paralysis akan memakan waktu lebih kurang 12 jam, pada beberapa kasus biasanya menjadi lebih cepat, 3 jam setelah gigitan.

–          Myotoxicity

Myotoxiticty hanya akan di temui bila seseorang diserang atau digigit oleh ular laut.  Ular yang berada didaratan biasanya tidak ada yang menyebabkan terjadinya myotoxicity berat.  Tanda dan gejala adalah : nyeri otot, tenderness, myoglobinuria, dan berpotensi untuk terjadinya gagal ginjal, hiperkalemia dan cardio toxicity.

Beberapa contoh masalah serius yang diakibatkan oleh gigitan atau serangan serangga didantaranya adalah:

    1. Reaksi alergi berat (anaphylaxis).

Reaksi ini tergolong tidak biasa, namun dapat mengancam kahidupan dan membutuhkan pertolongan darurat. Tanda-tanda atau gejalanya adalah:

–   Terkejut (shock). Dimana ini bisa terjadi bila sistem peredaran darah tidak mendapatkan masukan darah yang cukup untuk organ-organ penting (vital).

–   Batuk, desahan, sesak nafas, merasa sakit di dalam mulut atau kerongkongan/tenggorokan

–   Bengkak di bibir, lidah, telinga, kelopak mata, telapak tangan, tapak kaki, dan selaput lendir (angioedema)

–   Pusing dan kacau

–   Mual, diare, dan nyeri pada perut

–   Rasa gatal dengan bintik-bintik merah dan bengkak

–   Gejala tersebut dapat diikuti dengan gejala lain dari beberapa reaksi.

    1. Reaksi Racun oleh gigitan atau serangan tunggal dari serangga. Serangga atau laba-laba yang menyebabkan hal tersebut misalnya:

–   Laba-laba janda (widow) yang berwarna hitam

–   Laba-laba pertapa (recluse) yang berwarna coklat

–   Laba-laba gembel (hobo)

–   Kalajengking

    1. Reaksi Racun dari serangan labah, tawon, atau semut api.

–   Seekor lebah dengan alat penyengatnya di belakang lalu mati setelah menyengat. Lebah madu afrika, yang dinamakan lebah-lebah pembunuh, mereka lebih agresif dari pada lebah madu kebanyakan dan sering menyerang bersama-sama dengan jumlah yang banyak.

–   Tawon, penyengat dan si jaket kuning (yellow jackets), dapat menyengat berkali-kali. Si jaket kuning dapat menyebabkan sangat banyak reaksi alergi.

–   Serangan semut api kepada seseorang dengan gigitan dari rahangnya, kemudian memutar kepalanya dan menyengat dari perutnya dengan alur memutar dan berkali-kali.

    1. Reaksi kulit yang lebar pada bagian gigitan atau serangan.
    2. Infeksi kulit pada bagian gigitan atau serangan.
    3. Penyakit serum (darah)

Sebuah reaksi pada pengobatan (antiserum) digunakan untuk mengobati gigitan atau serangan serangga. Penyakit serum menyebabkan rasa gatal dengan bintik-bintik merah dan bengkak serta diiringi gejala flu tujuh sampai empat belas hari setelah penggunaan anti serum.

    1. Infeksi Virus

Infeksi nyamuk dapat menyebarkan virus West Nile kepada seseorang, menyebabkan inflamasi pada otak (encephalitis).

    1. Infeksi Parasit

Infeksi nyamuk dapat menyebabkan menyebarnya malaria.

 

D. PENATALAKSAAN

  1. Gigitan Pada Serangga

Kejadian gigitan / sengatan dari hewan maupun tumbuhan dapat terjadi pada rumah tangga.  Mulai dari hewan kecil, seperti tungau, pinjal, lebah, nyamuk, kaki seribu, kelabang, sampai ular, anjing.  Akibat yang nyata terlihat adanya perlukaan pada kulit dan adanya tanda peradangan ( merah bengkak, sakit/nyeri ).  Pada kondisi yang lebih buruk dapat terjadi kekakuan / kelumpuhan bagian yang terluka.  Jika luka karena sengatan serangga, segera lepas serangga dari tempat gigitannya, dengan menggunakan minyak pelumas, atau terpentin atau minyak cat kuku.  Setelah terlepas (kepala dan tubuh serangga) luka dibersihkan dengan sabun dan diolesi calamine (berfungsi untuk mengurangi gatal) atau krim antihistamin seperti diphenhidramin (Benadryl). Bila tersengat lebah, ambil sengatnya dengan jarum halus, bersihkan dan oleskan krim antihistamin atau kompres es bagian yang tersengat.  Bila menunjukkan adanya tanda-tanda membahayakan, seperti kepala berputar-putar, mual-muntah, pucat apalagi sampai sesak napas, segera rujuk ke rumah sakit.

  1. Gigitan Pada Ular

Pertolongan pertama pada gigitan ular :

–   Immobilisasi anggota tubuh yang di gigit.

–   Anjurkan pasien untuk tenang.

–   Bawa pasien yang mempunyai fasilitas kesehatan yang  memadai.

Balut tekan tidak semua digunakan pada semua kasus gigitan ular.  Walaupun demikian, jika diketahui bahwa gigitan ular tersebut tidak termasuk kedalam non – necrotic spesies maka pressure immobilasi teknik dapat digunakan.  Bila gigitannya disebabkan oleh King Kobra yang menyebabkan local necrosis yang biasanya tidak berat, tetapi dapat menyebabkan paralysis yang cepat dan berat, maka pressure immobilisasi methode mempunyai alasan untuk digunakan.  Metode lama dalam pertolongaan pertama yang masih dipakai adalah memasang torniquet, suction dengan alat atau menggunakan mulut (biasanya terinspirasi dari menonton film yang bertemakan petualangan), pemberian bahan – bahan kimia yang semuanya sebenarnya merupakan kontra indikasi.  Seandainya bila anti venom tidak tersedia ditempat tersebut ini tidak menjadi kendala asal luka telah dibersihkan.

 

 

Managemen untuk gigitan ular :

a.       Selalu mengasumsikan bahwa semua gigitan ular dapat mengancam kehidupan.

b.      Bila melakukan triage kasus gigitan ular maka selalu dimasukkan kedalam katagori emergency.

c.       Pasang IV line pada semua kasus.

d.      Berhati – hati ketika memilih lokasi pemasangan IV line atau pengambilan sample darah pada kasus koagulopahty, yang betujuan untuk mencegah pendarahan.  Khususnya pada pembuluh darah subclavia, jugular, femur.

e.       Hindari melakukan penyuntikan intra muscular jika memungkinkan terjadinya coagulopathy.

f.       Lakukan pemeriksaan whole blood clotting time (WBCT).

g.      Jika terjadi gangguan pada pernafasan akibat paralysis, persiapkan untuk intubasi dan pemasangan ventilator eksternal.

h.      Jika terjadi shock, tangani dengan pemberian cairan.

Tips yang dapat dilakukan :

a.       Usahakan membunuh ular yang mengigit anda untuk memudahkan identifikasi ular dalam pemberian anti venom.  Ketika membunuh ular tersebut jangan sampai anda tergigit lagi oleh ular tersebut.

b.      Untuk membedakan antara ular berbisa dengan tidak adalah dengan melihat bekas gigitan.  Gigitan yang terdiri dari 2 lubang gigitan layaknya gigitan vampire menandakan ular tersebut memiliki racun (Bisa), sedangkan gigitan yang membentuk setengah lingkaran cenderung tidak berbisa.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.  Lebih Baik Mencegah Daripada Mengobatihttp://jakarta.indonetwork.co.id/pestcontrol_terminix/pest-control-terminix.htm. Diakses pada tanggal 31 Desember 2007

 

Majid, Mohamed Isa Abd. 2002. Mengendalikan Sengatan Serangan Pada Anak – Anak.http://www.prn2.usm.my/mainsite/bulletin/kosmik/2002/kosmik1.html

 

Riza.  Penanganan Pada Gigitan Ularhttp://ms.wikipedia.org/wiki.  Diakses pada tanggal 31 Desember 2007.

 

Rohmi, Nur. 17 Desember 2006. Insect Bites. http://www.fkui.org.htm.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KERACUNAN GAS

A. Pengertian

Toksisitas merupakan istilah dalam toksikologi yang didefinisikan sebagai kemampuan bahan kimia untuk menyebabkan kerusakan/injuri. Istilah toksisitas merupakan istilah kualitatif, terjadi atau tidak terjadinya kerusakan tergantung pada jumlah unsur kimia yang terabsopsi. Sedangkan istilah bahaya (hazard) adalah kemungkinan kejadian kerusakan pada suatu situasi atau tempat tertentu; kondisi penggunaan dan kondisi paparan menjadi pertimbangan utama.

 

B. Etiologi

Klasifikasi Keracunan:

1.      Menurut cara terjadinya

a.       Self poisoning Terjadi dimana pasien menggunakan obat dengan dosis yang berlebihan, sering didapatkan bahwa pasien kurang hati-hati dalam penggunaan biasa terjadi pada remaja yang rasa ingin taunya tinggi sehingga mencoba-coba tanpa disadari bahwa ini membahayakan dirinya.

b.      Attempted poisoning pasien ingin bunuh diri (akibat putus cinta dll) yang tentu saja dapat menyebabkan kematian atau gak jadi mati bahkan sembuh. Mengapa begitu ? karena pasien sendiri tidak tau atau salah tafsir dalam penggunaan dosis.

c.       Accidental poisoning Keracunana murni akibat ketidaksengajaan tanpa ada unsur kesengajaan. Sering terjadi pada anak – anak (kebiasaan memasukan benda kemulut) jadi buat ibu-ibu dirumah hati-hati.

d.      Homicidal piosoning Keracunan ini terjadi akibat tindak kriminal yaitu seseorang dengan sengaja meracuni seseorang.

2.      Menurut waktu terjadinya Keracunan :

    1. Keracunan kronis

Diagnosis Keracunan ini sulit dibuat, karena gejala timbul perlahan dan lama sesudah pajanan. Gejala dapat timbul secara akut setelah pemajanan berkali-kali dalam dosis yang relatif kecil.

    1. Keracunan akut

Keracunan jenis ini lebih mudah dipahami, karena biasanya terjadi secara mendadak setelah makan atau terkena sesuatu. Selain itu Keracunan jenis ini biasanya terjadi pada banyak orang (misal Keracunan makanan, dapat mengenai seluruh anggota keluarga atau bahkan seluruh warga kampung). Pada Keracunan akut biasanya mempunyai gejala hampir sama dengan sindrom penyakit, oleh karena itu harus diingat adanya kemungkinan  Keracunan  pada sakit mendadak.

3.      Menurut alat tubuh yang terkena

Keracunan digolongkan menurut organ tubuh yang terkena, misal racun pada SSP, racun jantung, racun hati, racun ginjal dan sebagainya. Suatu organ cenderung dipengaruhi oleh banyak obat, sebaliknya jarang terdapat obat yang mempengaruhi /mengenai satu organ saja

4.      Menurut jenis bahan kimia : Alkohol, Fenol, Logam berat, Organofosfor.

 

Pengklasifikasian bahan toksik yang menjadi penyebab Keracunan adalah sebagai berikut:

  • Menurut keadaan fisik :gas, cair, debu
  • Menurut ketentuan label : eksplosif, mudah terbakar, oksidizer
  • Menurut struktur kimiawi : aromatik, halogenated, hidrokarbon, nitrosamin
  • Menurut potensi toksik : super toksik, sangat toksik sekali, sangat toksik, toksik, agak toksik

Metode Kontak Dengan Racun

 

 

 

 

Metode kontak dengan racun melalui cara berikut:

  • Tertelan

Efeknya bisa lokal pada saluran cerna dan bisa juga sistemik. Contoh kasus: overdosis obat, pestisida

  • Topikal (melalui kulit)

Efeknya iritasi lokal, tapi bisa berakibat Keracunan sistemik. Kasus ini biasanya terjadi di tempat industri. Contoh: soda kaustik, pestida organofosfat

  • Topikal (melalui mata)

Efek spesifiknya pada mata dan bisa menyebabkan iritasi lokal. Contoh : asam dan basa, atropin

  • Inhalasi

Iritasi pada saluran nafas atas dan bawah, bisa berefek pada absopsi dan Keracunan sistemik. Keracunan melalui inhalasi juga banyak terjadi di tempat-tempat industri.   Contoh : atropin, gas klorin, CO (karbon monoksida)

  • Injeksi

Efek sistemik, iritasi lokal dan bisa menyebabkan nekrosis. Masuk ke dalam tubuh bisa melalui intravena, intramuskular, intrakutan maupun intradermal.

 

C. Patofisiologi Keracunan Gas Co

Gas CO masuk ke paru-paru inhalasi, mengalir ke alveo-li, terus masuk ke aliran darah Gas CO dengan segera mengikat hemoglobin di tempat yang sama dengan tempat oksigen mengikat hemoglobin, untuk membentuk karboksi hemoglobin (COHb) . Ikatan COHb bersifat dapat pulih/reversible.

Mekanisme kerja gas CO di dalam darah:

  1. Segera bersaing dengan oksigen untuk mengikat hemoglobin. Kekuatan ikatannya 200-300 kali lebih kuat dibandingkan oksigen . Akibatnya, oksigen terdesak dan lepas dari hemoglobin sehingga pasokan oksigen oleh darah ke jaringan tubuh berkurang, timbul hipoksia jaringan.
  2. COHb mencampuri interaksi protein heme, menyebabkan kurva penguraian HbO2 bergeser kekiri (Haldane effect). Akibatnya terjadi pengurangan pelepasan oksigen dari darah ke jaringan tubuh.

Proses terpenting dari keracunan gas CO terhadap sel adalah rusaknya metabolisme rantai pernafasan mitokonria, menghambat komplek enzim sitokrom oksidase a3 sehingga oksidasi mitokondria untuk menghasilkan Adenosine Tri Posfat (ATP) berkurang. Ekskresi gas CO terutama melalui respirasi, dimetabolisme menjadi karbon dioksida (CO2), tidak lebih dari 1%

D. Manifestasi Klinis Keracunan Gas

Tanda dan gejala awal keracunan adalah stimulasi berlebihan kolinergik pada otot polos dan reseptor eksokrin muskarinik yang meliputi miosis, gangguan perkemihan, diare, defekasi, eksitasi, dan salivasi .Efek yang terutama pada sistem respirasi yaitu bronkokonstriksi dengan sesak nafas dan peningkatan sekresi bronkus. Dosis menengah sampai tinggi terutama terjadi stimulasi nikotinik pusat daripada efek muskarinik (ataksia, hilangnya refleks, bingung,, sukar bicara, kejang disusul paralisis, pernafasan Cheyne Stokes dan coma. Pada umumnya gejala timbul dengan cepat dalam waktu 6 – 8 jam, tetapi bila pajanan berlebihan dapat menimbulkan kematian dalam beberapa menit. Kematian keracunan gas akut umumnya berupa kegagalan pernafasan. Oedem paru, bronkokonstriksi dan kelumpuhan otot-otot pernafasan yang kesemuanya akan meningkatkan kegagalan pernafasan. Aritmia jantung seperti hearth block dan henti jantung lebih sedikit sebagai penyebab kematian., melalui inhalasi gejala timbul dalam beberapa menit. Ingesti atau pajanan subkutan umumnya membutuhkan waktu lebih lama untuk menimbulkan tanda dan gejala. Pajanan yang terbatas dapat menyebabkan akibat terlokalisir. Absorbsi perkutan dapat menimbulkan keringat yang berlebihan dan kedutan (kejang) otot pada daerah yang terpajan saja. Pajanan pada mata dapat menimbulkan hanya berupa miosis atau pandangan kabur saja. Inhalasi dalam konsentrasi kecil dapat hanya menimbulkan sesak nafas dan batuk. Komplikasi keracunan selalu dihubungkan dengan neurotoksisitas lama dan organophosphorus-induced delayed neuropathy(OPIDN).(1) Sindrom ini berkembang dalam 8 – 35 hari sesudah pajanan terhadap organofosfat. Kelemahan progresif dimulai dari tungkai bawah bagian distal, kemudian berkembang kelemahan pada jari dan kaki berupa foot drop. Kehilangan sensori sedikit terjadi. Demikian juga  refleks tendon dihambat.

 

E. Penatalaksanaan  Keperawatan

Penilaian klinis Keracunan merupakan hal utama, pada permulaan Keracunan yaitu Penilaian kesadaran dan respirasi. Kesadaran merupakan salah satu petunjuk penting untuk mengukur berat ringannya Keracunan, tingkat kesadaran dalam toksikologi dibagi menjadi 4 tingkat yaitu :

  1. Tingkat I : penderita ngantuk tapi mudah diajak bicara
  2. Tingkat II : penderita dalam keadaaan sopor, dapat dibangunkan dengan rangsang minimal, misalnya bicara keras-keras atau menggoyang lengan
  3. Tingkat III : penderita dalam keadaan soporokoma, hanya dapat bereaksi dengan rangsang maksimal, yaitu dengan menggosok sternum dengan kepalan tangan.
  4. Tingkat IV : penderita dalam keadaan koma, tidak ada reaksi sedikitpun terhadap rangsang maksimal.

 

F. Keracunan melalui inhalasi

Penatalaksanaan umum

1.      Bawa pasien ke udara segar dengan segera, buka semua pintu dan jendela.

2.      Longgarkan semua pakaian ketat.

3.      Mulai resusitasi kardiopulmonal jika diperlukan.

4.      Cegah menggigil, bungkus pasien dalam selimut.

5.      Pertahankan pasien setenang mungkin.

6.      Jangan berikan alkohol dalam bentuk apapun.

Tindakan Pada dasarnya tindakan pertama yang harus dilakukan adalah melakukan ABC (airway, Breathing and Circulation) bukan mencari penyebab Keracunan. Disini dimaksudkan adalah hal utama yang harus dilakukan adalah stabilisasi pasien, lakukan prioritas masalah dan lakukan tindakan yang sesuai. Contoh apabila diduga mengalami Keracunan dengan gejala sesak segera bebaskan jalan nafas.

 

Berikut sekilas Penatalaksanaan pada pasien yang baru Keracunan:

Stabilisasi

Lakukan stabilisasi dengan mengutamakan masalah utama yang ada, Langkah-langkah stabilisasi adalah sebagai berikut:

  • Perhatikan dan tangani jalan nafas
  • Perhatikan perdarahan dan kontrol perdarahan jika ada. Segera cegah dan tangani syok dengan pemberian produk darah jika perlu.
  • Cari dan perhatikan adanya cidera yang berkaitan dengan proses penyakit lain
  • Kaji, tetapkan, tangani status asam basa dan elektrolit.
  • Perhatikan status jantung (denyut nadi, suara, aliran dll) lakukan pemeriksaan singkat, dengan penekanan pada wilayah-wilayah yang mungkin memberi petunjuk ke arah diagnosis toksikologi, meliputi:

a.       Tanda-tanda vital

Evaluasi yang teliti terhadap tanda-tanda vital yang meliputi tekanan darah, nadi, pernafasan, suhu dan tingkat kesadaran.

b.      Mata

Mata merupakan sumber informasi yang penting untuk toksikologis, karena beberapa kasus toksikologis menyebabkan perubahan pada mata. Tetapi dalam menentukan prognosis Keracunan gejala ini tidak bisa dijadikan pegangan.

c.       Mulut

Mulut mungkin menunjukkan tanda-tanda terbakar yang disebabkan oleh unsur korosif atau mungkin menunjukkan bekas tertentu yang menjadi cirikas dari suatu bahan toksik.

d.      Kulit

Kulit sering menunjukkan adanya kemerahan atau keluar keringat yang berlebihan.

e.       Abdomen

Perubahan bising usus biasanya menyertai perubahan tingkat kesadaran. Pada kesadaran tingkat III biasanya bising usus negatif, dan pada tingkat IV selalu negatif, sehingga pemeriksaan ini bisa dipakai untuk mencocokkan tingkat kesadaran, misalnya pada orang yang bersimulasi.

f.       Sistem saraf

Seizure fokal atau deficit motorik menunjukkan adanya lesi struktural daripada toksik atau ensefalopati metabolik.

Setelah kondisi pasien stabil lakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik lanjutan dan bila perlu lakukan pemeriksaan laboratorium. Fungsi anamnesis secara umum sebagai berikut :

  • Pada Riwayat umum mengidentifikasi bahan toksik, jumlah dan waktu pemajanan, alergi atau penyakit yang mendasari, dan apakah tindakan pertolongan pertama yang telah dilakukan. Riwayat umum dapat diperoleh dari pasien sendiri, angota keluarga, teman-teman, para penyelamat dan saksi.
  • Identifikasi keberadaan sindrom toksik Adanya sindrom toksik dapat membantu menegakkan diagnosa banding dengan mengusulkan berdasarkan kelas dari racun yang mungkin mengenai korban. Lima sindrom toksik yang sering muncul adalah sebagai berikut:

–          Kolinergik Gejala : tanda vital menurun, salivasi berlebihan, lakrimasi, urinasi, emesis dan diaforesis, depresi sistem saraf, bradikardi, kejang. Penyebab : insektisida organofosfat dan karbamat, beberapa jamur

–          Opiat/hipnotik sedatif Gejala : TTV menurun, koma, depresi pernafasan, miosis, hipotensi, bradikardi, penurunan bising usus, edema pulmonal. Penyebab : narkotik, benzodiazepam, barbiturat, etanol, klonidin

–          Antikolinergik Gejala : delirium, kering, ruam kulit, pupil melebar, suhu tinggi, retensi urine, bising usus menurun, takikardi, kejang Penyebab ; antihistamin, atropin, agen antidepresan, beberapa tanaman jamur

–          Simpatomimetik Gejala : delusi, paranoia, takikardia, hipertensi, midriasis, kejang Penyebab : kokain, teofilin, kafein, amfetamin, fenipropanolamin

–          Gejala putus obat Gejala : diare, midriasis, takikardia, halusinasi, kram Penyebab : alkohol, barbiturat, narkotik, benzodiazepine

 

G. Penatalaksanaan Keracunan

Penatalaksanaan kasus Keracunan dapat dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu:

  • Penatalaksanaan umum
  • Penatalaksanaan tingkat lanjut

 

H. Penatalakasanaan umum

Langkah ini termasuk tindakan pertolongan pertama yang diberikan untuk mencegah absopsi agen dan jika memungkinkan untuk menyingkirkan pemajanan berlanjut atau berulang.

Properti fisiokimia obat atau toksik, banyaknya, dan waktu pemajanan dapat menentukan tipe dan beratnya dekontaminasi. Dekontaminasi melibatkan pengeluaran toksik dari kulit, saluran cerna, inhalasi, dan okular.

  • Pemajanan okuler

Dalam kasus ini , dekontaminasi dicapai dengan pengaliran  air suam-suam kuku atau normal saline segera setelah pemajanan. Menggunakan gelas besar atau mandi pancur bertekanan rendah, mata akan terus-menerus tergenangi selama 15 sampai 30 menit sambil mengedip mata, memejam dan membuka mata. Jika gejala dari iritasi okuler belum mereda setelah dilakukan dekontaminasi, maka diperlukan pemeriksaan mata lanjutan.

  • Pemajanan dermal

Setelah melepas pakaian yang terkontaminasi, dekontaminasi kulit dilakukan dengan merendam kulit dalam air suam-suam kuku selama 15 sampai 30 menit dan kemudian secara lembut mulai membersihkan bagian yang terkontaminasi dengan air dan sabun, membilas dengan menyeluruh. Kasus penyerapan toksin secara dermal, pemberi perawatan kesehatan dapat berisiko terhadap toksisitas jika terjadi kontaminasi dermal sementara membantu korban untuk dekontaminasi. Netralisasi asam basa pada kulit dianjurkan untuk pemberi perawatan.

  • Pemajanan inhalasi

Langkah pertama yang dilakukan adalah memindahkan korban ke tempat yang udaranya segar sambil memastikan bahwa penolong tidak terpajan toksik yang menyebar di udara. Jalan nafas yang paten harus dibuat dan status pernafaasan dikaji. Pernafasan buatan diperlukan jika korban tidak bernafas spontan.

  • Ingesti

Dilusi dengan susu dan air dilakukan pada menelan  iritan atau kaustik. Pada orang dewasa dapat didilusi dengan satu gelas susu atau air, sedangkan pada anak-anak dapat diberikan 2 sampai 8 ons cairan, berdasarkan pada ukurannya.

 

I. Penatalaksaanaan Tingkat Lanjut

Langkah ini mengacu pada modalitas tindakan yang khusus, yang dapat mencakup langkah-langkah pencegahan lebih lanjut terhadap absorpsi, peningkatan eliminasi, pemantauan pasien, pemberian antidotum, dan perawatan simtomatik dan suportif. Cara ini meliputi:

  • Emetik

Merupakan tindakan mengeluarkan kembali obat atau toksik yang tertelan dengan merangsang muntah. Pada umumnya tindakan ini dilakukan dalam 4 jam setelah kejadian, lebih cepat lebih baik. Muntah yang ditimbulkan tidak akan mengosongkan lambung seluruhnya, hanya sekitar 30 % isi lambung yang dapat dikeluarkan. Biasanya emetik yang digunakan adalah sirup ipecac. Sirup ini harus diberikan sesegera mungkin setelah ingesti (dalam 30 menit) dan diikuti dengan air dan meningkatkan aktivitas fisik pasien. Jika dosis awal gagal untuk mendapatkan hasil dalam waktu 20 sampai 30 menit, dapat diulang satu kali dengan dosis sama. Apabila emesis sudah selesai, tunda makan minum selama satu sampai dua jam untuk menenangkan lambung.

Kontraindikasi untuk tindakan emesis:

    1. Depresi status mental
    2. Tidak ada reflek muntah
    3. Kejang
    4. Ingesti  agen yang dapat menimbulkan serangan depresi pada SSP
    5. Agen kaustik yang tertelan telah dicerna
    6. Setelah menelan substansi korosif
    7. Setelah minum turunan petrolium
  • Lavage lambung

Merupakan metode alternatif yang umum untuk pengosongan lambung, dimana cairan seperti normal saline dimasukkan ke dalam lambung melalui orogastrik atau nasogastrik dengan diameter besar dan kemudian dibuang dalam upaya untuk membuang bagian agen yang mengandung toksik.

Indikasi lavage lambung adalah:

    1. Depresi status mental
    2. Tidak ada reflek muntah
    3. Gagal dengan terapi emesis
    4. Pasien dalam keadaan sadar

Kontraindikasi lavage lambung:

    1. Ingesti kaustik
    2. Kejang yang tidak terkontrol

Untuk tindakan ini pasien dibaringkan dalam posisi dekubitus lateral sebelah kiri, dengan bagian kepala lebih rendah daripada kaki. Masukkan cairan 150 sampai 200 ml air atau saline (pada anak 50 sampai 100 ml) ke dalam lambung. Prosedur ini diulang sampai keluar cairan yang jernih atau sedikitnya menggunakan 2 liter air. Intubasi nasotrakeal atau endotrakeal diperlukan untuk melindungi jalan udara. Prosedur ini dilakukan 4 jam setelah obat ditelan.

Komplikasi lavage lambung:

    1. Perforasi esofagus
    2. Aspirasi pulmonal
    3. Ketidakseimbangan elektrolit
    4. Tensi pneumothorak
    5. Hipotermia pada anak-anak bila menggunakan lavage yang dingin
  • Adsorben

Adsorben merupakan bahan padat yang mempunyai kemampuan menarik dan menahan pada permukaannya bahan lainnya. Pasien diberi karbon aktif yang berupa bubur ditambah air, yang komposisinya terdiri atas karbon aktif 1 bagian dengan 8 bagian air (1:8) sampai 1:10. karena ikatan karbon-toksik lemah, maka harus segera dikeluarkan dari saluran cerna dengan menggunakan laksatif. Penggunaan adsorben harus hati-hati pada pasien dengan bising usus rendah, dan menjadi kontraindikasi untuk pasien dengan gangguan usus.

  • Katartik

Pemberian agen katartik dapat mempercepat eliminasi toksin dari saluran cerna dan mengurangi absorpsi. Katartik diberikan per oral atau dengan selang nasogastrik pada semua kasus Keracunan di mana arang obat dianjurkan, kecuali pada anak kecil. Pada anak-anak kurang dari 1 tahun, katartik tidak diberikan untuk menghindari dehidrasi.

  • Peningkatan eliminasi

Setelah prosedur diagnostik dan dekontaminasi serta pemberian antidot dilakukan dengan tepat, penting untuk mempertimbangkan langkah peningkatan eliminasi, seperti diuresis paksa, dialisis atau tranfusi tukar.

Diuresis paksa adalah tindakan memberi caairan parenteral dalam jumlah besar (0,5-1,5 liter sejam) untuk mempercepat ekskresi obat melalui ginjal. Syarat diuresis paksa adalah sebagai berikut:

    1. Keracunan harus berat
    2. Obat harus larut dalam air
    3. Berat molekul obat kecil
    4. Obat tidak diikat oleh protein maupun lemak
    5. Obat tidak dikumulasi dalam suatu rongga atau organ tubuh
    6. Obat tidak diekskresi lebih cepat melalui jalan lain, misal paru atau usus.

Tindakan ini mudah dilakukan tetapi mengandung bahaya yang tidak boleh diabaikan karena itu hanya dilakukan bila ada indikasi yang baik dan memenuhi syarat-syaratnya. Kontraindikasi untuk diuresis paksa adalah:

    1. Gagal jantung
    2. Insufisiensi ginjal
    3. Syok

Semula diuresis paksa sangat populer, tetapi karena tidak terbukti manfaatnya, cara ini jarang digunakan, karena bisa mengakibatkan ketidaknormalan elektrolit.

Hemodialisis merupakan proses perubahan komposisi terlarut darah dengan difusi menembus dinding semipermiabel antara darah dan larutan garam. Metode ini digunakan bila metode konservatif tidak berhasil. Sedangkan hemoperfusi adalah metode pembuangan obat dan toksin dari darah, dengan memompakan darah melewati  bahan adsorben dan kemudian disirkulasikan kembali ke dalam tubuh pasien. Antikoagulasi seperti heparin diperlukan untuk mencegah pembekuan darah. Tranfusi tukar merupakan  pembuangan bagian darah pasien dan menggantikan dengan darah lengkap yang segar,  cara terakhir ini sangat jarang dilakukan.

 

J. Pemantauan Pasien Keracunan

Pasien yang Keracunan akan memerlukan pemantauan kontinue selama berjam-jam atau berhari-hari setelah pemajanan. Peralatan diagnostik serta tanda-tanda gejala akan memberikan informasi tentang perkembangan pasien dan arah pengobatan serta Penatalaksanaan keperawatan. Poemantauan toksikologi meliputi:

  1. Elektrokardiografi

EKG dapat memberikan bukti-bukti dari obat-obat yang menyebabkan penundaan disritmia atau konduksi.

  1. Radiologi

Banyak substansi adalah radioopak, dan cara ini juga untuk menunjukkan adanya aspirasi dan edema pulmonal.

  1. Analisa GasDarah, elektrolit dan pemeriksaan laboratorium lain

Keracunan akut dapat mengakibatkan ketidakseimbangan kadar elektrolit, termasuk natrium, kalium, klorida, magnesium dan kalsium. Tanda-tanda oksigenasi yang tidak adequat juga sering muncul, seperti sianosis, takikardia, hipoventilasi, dan perubahan status mental.

  1. Tes fungsi ginjal

Beberapa toksik mempunyai efek nefrotoksik secara lengsung.

  1. Skrin toksikologi

Cara ini membantu dalam mendiagnosis pasien yang Keracunan. Skrin negatif tidak berarti bahwa pasien tidak Keracunan, tapi mungkin racun yang ingin dilihat tidak ada. Adalah penting untuk mengetahui toksin apa saja yang bisa diskrin secara rutin di dalam laboratorium, sehingga pemeriksaannya bisa efektif.